Nippon Steel Trading mengandeng Adyawinsa Dinamika, Dwijaya Sentosa Abadi, dan Krakatau Steel mendirikan PT IndoJapan Steel Center. (BLOOMBERG/FABRICE DIMIER) JAKARTA (IFT) – Nippon Steel Trading Co Ltd, anak usaha Nippon Steel Corporation, mengandeng PT Adyawinsa Dinamika, PT Dwijaya Sentosa Abadi, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mendirikan PT IndoJapan Steel Center, perusahaan pemotongan baja lembaran untuk industri otomotif. IndoJapan akan membangun pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun di Karawang, Jawa Barat dengan nilai investasi Rp 100 miliar mulai bulan ini.
Tetsuo Imakubo, Presiden Direktur Nippon Steel Trading, mengatakan Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi sehingga Nippon Steel sebagai pabrik baja besar dunia turut serta dalam proyek ini.
“Kami akan terus meningkatkan penjualan baja ke Indonesia,” kata dia, Rabu malam.
Nippon Steel merupakan perusahaan yang telah bertahun-tahun mempunyai pengalaman memproduksi baja untuk industri otomotif. Nantinya, Nippon Steel akan memberikan masukan kepada proyek ini. Dengan Indojapan Steel Centre ini, Nippon mempunyai 16 titik pengolahan baja di seluruh dunia.
Markus Maturo, Presiden Direktur Adyawinsa, mengatakan selama ini pasokan baja untuk industri otomotif masih didominasi oleh merek Jepang. Indojapan Steel Centre diharapkan akan membuat baja lokal yang diproduksi Krakatau Steel bisa ikut memenuhi kebutuhan baja bagi industri otomotif nasional.
“Namun, untuk beberapa produk yang belum bisa dipenuhi oleh Krakatau Steel, tetap akan diimpor dari Nippon,” kata dia.
Markus menambahkan konsumsi baja untuk industri otomotif bisa menjadi potensi dari IndoJapan. Baja yang diperlukan untuk mobil sekelas Toyota Avanza misalnya, adalah 700 kilogram per unit dikalikan kebutuhan nasional sebesar 800 ribu unit. Hasilnya kebutuhan baja 560 ribu ton per tahun. Produksi dari JapanIndo Steel Centre ini nantinya akan di peruntukkan bagi kepentingan dalam negeri.
Krakatau Steel nantinya akan memasok baja berupa inter panel karena baru bisa memproduksi baja dengan ketebalan empat feet. Sedangkan untuk Nippon mampu memproduksi baja dengan ketebalan lima feet dan mempunyai kemampuan membuat low hingga high tensile akan menyuplai produk lain yang tidak bisa di sediakan Krakatau Steel.
Proyek ini rencananya akan memasok baja lembaran untuk komponen otomotif roda empat dan tidak menutup kemungkinan, jika kapasitas produksi memadai juga akan memasok baja untuk kendaraan roda dua.
Komposisi saham IndoJapan adalah Nippon Steel 30%, Adyawinsa 30%, Dwijaya 30%, dan Krakatau 10%. Fazwar Bujang, Direktur Utama Krakatau Steel, mengatakan kecilnya porsi saham bukan jadi masalah karena yang terpenting bagi Krakatau Steel adalah memasuki semua lini produksi.
“Untuk industri hilir, Krakatau Steel tidak perlu menjadi mayoritas,” kata dia.
Menurut Fazwar, baja untuk industri otomotif mempunyai tingkat kualitas yang tinggi, sehingga harganya lebih mahal. Harga yang dipatok nantinya tergantung harga baja yang sedang berlaku.
Menurut Departemen Riset IFT, industri otomotif nasional berpotensi menekan biaya produksi, jika proyek pembangunan pabrik baja untuk industri otomotif terealisasi. Hingga saat ini, sebagian besar kebutuhan baja industri otomotif dipenuhi dari impor.
Industri otomotif nasional juga akan bertambah added value, karena bahan baku berupa baja otomotif nantinya akan dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Di sisi lain, industri baja nasional melalui Krakatau Steel dapat lebih mendiversifikasikan produknya untuk baja otomotif.
Dominasi Impor
Irwan Priyantoko, Chief External Affairs Officer PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, mengatakan saat ini Toyota masih mengimpor sebagian besar kebutuhan bajanya dari Jepang.
“Porsi baja dari dalam negeri masih kecil, yakni sekitar 4%-5% dari total kebutuhan baja Toyota Manufacturing sebesar 60 ribu ton pertahun,” kata dia kepada IFT, Kamis.
Irwan menuturkan Toyota Manufacturing ingin memperbanyak kandungan lokal bajanya. Namun, produsen baja dalam negeri, yakni Krakatau Steel belum bisa memenuhi kebutuhan dari sisi kualitas dan standar yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Krakatau Steel berpotensi memenuhi permintaan baja Toyota Manufacturing, jika standar dan kualitas produk yang dihasilkan bisa ditingkatkan. Krakatau Steel selama ini baru bisa memenuhi pasokan untuk bagian dalam komponen.
“Intinya industri otomotif menyambut baik kalau produsen baja dalam negeri bisa mensuplai kebutuhan otomotif sepanjang kualitas, delivery, dan harga bisa sesuai dengan spesifikasinya yang dibutuhkan,” kata dia.
| < Prev | Next > |
|---|







